Gerakan Anti narkoba bukan dengan jalan pemaksaan. Gerakan anti narkoba adalah dengan menumbuhkan kesadaran. Kesadaran cinta pada diri sendiri dan kesadaran cinta pada lingkungannya. 

Kampung Bonang yang dulunya merupakan kampung rawan narkoba dan tawuran, kini telah berubah menjadi sebuah kampung dengan remaja serta masyarakatnya yang kreatif. Kesadaran yang tinggi pada remaja dan masyarakat di kampung Bonang ini telah mampu membuktikan bahwa gerakan anti narkoba bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan. Termasuk dnegan pendekatan di bidang seni dan ilmu pengetahuan.

Komunitas Musik Bersama Proklamasi 

Komunitas Musik Bersama Proklamasi telah aktif sejak tahun 2007. Awalnya kegiatan ini diawali dengan mengirim 5 orang remaja dari kampung Bonang ke tempat seniman ternama Hari Rusli di Bandung. Di sana mereka beajar segala hal tentang musik selama kurang lebih dua tahun. 

Setelah kembali lagi ke kampung Bonang, dari kelima remaja tersebut tiga diantaranya kemudian aktif mengembangkan musik bersama remaja lain di kampung halamannya ini. Di saat itulah Yayasan Nurani Dunia kembali memberikan dukungan berupa perlatan musik. Hingga akhirnya terbentuklah group band musik lainnya bahkan jumlahnya mencapai 20 grup. 

Untuk memelihara dan meningkatkan semangat bermusik, kumpulan dari grup band ini membentuk komunitas musik bersama Proklamasi. Komunitas ini mempunyai moto “Komunitas Bersatu, Hidup Bersatu”. Saat ini komunitas tersebut sudah memiliki sebuah studio musik yang bukan hanya digunakan oleh mereka untuk berlatih. Bahkan studio tersebut juga dibuka untuk masyarakat dari luar komunitas ini. Tentu saja tarif yang diberlakukan untuk anggota komunitas dan masyarakat umum akan berbeda. 



Komunitas Musik Bersama Proklamasi ini telah memberikan hasil nyata. Diantaranya adalah keberhasilan salah satu grup band anggotanya yaitu Grup Band For Air yang dikontrak oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI) untuk mengisi salah satu acara hiburan di sana. Selain itu grup ini juga membuat video klip dengan lagu yang dibawakan bertema Narkoba. Ada juga prestasi dari grup lain yang menjadi anggota komunitas ini. Grup ini mendapat kesempatan mengisi panggung salah satu Café di sebuah apartemen di Jakarta. Mereka memberikan hiburan pada saat jam makan siang selama dua jam. Kesempatan ini mereka terima secara rutin sekali dalam sebulan. 

Nyatanya kegiatan bermusik ini bukan hanya bisa memberikan kegiatan positif bagi para remaja. Lebih dari itu kegiatan bermusik ini juga mampu memberikan keuntungan secara financial. Kegiatan bermusik ini juga telah memberikan motivasi bagi remaja untuk meningkatkan potensi yang ada pada diri mereka. Ada dampak positif yang juga berpengaruh pada kampung Bonang. Kegiatan bermusik ini telah mampu merubah wajah suram Kampung Bonang yang terkenal sebagai kampung penuh konflik dan narkoba di masa lalu. 

Marawis dan Rebana Kampung Bonang 



Ini adalah kegiatan bermusik yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga di lingkungan RW 06 Kampung Bonang Kelurahan Pegangsaan Kecamatan Menteng. Kelompok ini beranggotakan sekitar 30 orang. Mereka terbagi dalam dua kelompok yaitu kelompok marawis dan kelompok rebana. 

Ibu-ibu yang tergabung dalam grup kesenian marawis ini biasanya berlatih di Mushala Al-Hidayah juga masjid Asyukur. Sementara kelompok rebana mereka berlatih di kantor sekretariat PKK Rw 06. Kelompok kesenian ini berawal dari kegiatan spiritual keagamaan yang ada di kampung Bonang ini yaitu pengajian rutin setiap malam Jum’at. Adanya grup marawis dan rebana ini bukan saja bisa menyalurkan hobi berkesenian para ibu-ibu di kampung Bonang ini. Lebih dari itu adanya kegiatan seni ini juga bisa meningkatkan spiritualitas keluarga yang dimulai dari para ibu. 

Lagu-lagu yang dibawakan oleh grup kesenian ini juga mengandung pesan moral keagamaan. Dengan adanya kegiatan kesenian ini pula silaturahmi antar warga bisa terjalin dengan baik. Dengan demikian tidak ada lagi celah bagi para pengedar narkoba untuk melakukan strategi licik apapun di kampung Bonang ini guna melancarkan kegiatan transaksi narkoba mereka. 

Gardu Ilmu 



Gardu ilmu merupakan sebuah bangunan kayu yang berukuran kurang lebih 4 meter persegi. Sesuai dengan namanya gardu ilmu ini merupakan sebuah gardu yang menjadi tempat berkumpul warga yang ada di sekitarnya. Gardu ini dibangun sejak tahun 2008 sebagai tempat menjalin silaturahmi. 

Dalam gardu ilmu yang berlokasi di RT 19 Rw 06 Kelurahan Pegangsaan Kecamatan Menteng ini juga dilengkapi dengan buku-buku bacaan. Jadi masyarakat sekitar bisa berkumpul dan bermain di sini sekaligus menambah ilmu pengetahuan mereka dengan membaca buku. Orang-orang yang datang ke gardu ilmu ini bukan hanya warga Rt 19 namun juga warga Rt 18 dan 20. 

Dalam perkembangannya gardu ilmu ini juga digunakan sebagai tempat musyawarah warga. Selain itu juga digunakan sebagai tempat kegiatan PKK seperti pelatihan kompos cair organik yang kemudian dikembangkan oleh warga dari Rt 18, 19 dan 20. 

Pendopo Ilmu 

Bangunan kayu ini bentuknya memang mirip pendopo, itu sebabnya disebut sebagai Pendopo Ilmu. Sebelum dibangun Pendopo Ilmu, tempat ini adalah sebuah tanah kosong yang berada di wilayah Rt 02 Rw 06 Kelurahan Pegangsaan Kecamatan Menteng Jakarta Pusat. Pendopo ilmu ini digunakan sebagai tempat berkumpulnya warga Rt 01,02 dan 03. Di Pendopo Ilmu ini warga sekitar dari berbagai kelompok usia melakukan kegiatan positif bersama-sama. Mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak juga ibu-ibu. Di sini mereka membaca, mengikuti berbagai pelatihan juga melakukan musyawarah antar warga. 



Ada banyak buku-buku yang tersedia di Pendopo Ilmu ini yang berasal dari sumbangan warga ataupun dari pihak luar kampung. Berbagai koleksi buku baru dan bekas mengisi perpustakaan dalam Pendopo Ilmu ini dan bisa menjadi bahan bacaan bagi warga di kampung ini. Kegiatan membaca seringkali dipandu oleh para relawan. 

Selain kegiatan membaca, di Pendopo ilmu ini juga dikembangkan kegiatan berkesenian. Di sini diadakan latihan menari yang diikuti oleh sekitar 50 anak. Tempat ini juga pernah digunakan sebagai tempat pelatihan membuat kompos takakura yang kemudian dikembangkan oleh ibu-ibu diwilayah ini.