Benarkah badan kurus menandakan itu penderita TB? Jika mendengar kata Tuberkulosis (TB) yang terpikir olehku adalah peristiwa sekitar 15 tahun yang lalu ketika ibuku divonis TB. Saat itu aku baru saja memiliki anak pertama dan bekerja di luar rumah. Tentu saja aku menitipkan anakku di rumah ibuku saat aku bekerja.Ketika itu ibuku memiliki usaha catering sehingga sebagian besar harinya ia habiskan di dapur dan bergelut dengan asap dapur. 


Saat itu ibu memang mudah lelah dan badannya memang kurus, bahkan berat badannya juga tidak pernah naik, malahan semakin hari semakin turun. Kami berpikir ibu memang kecapaian dengan pekerjaannya, dan solusinya adalah menambah lagi asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan ibu di dapur. Hingga akhirnya ketika pada suatu hari ibuku batuk dan dalam dahaknya terdapat bercak darah, kamipun menjadi sangat khawatir. 


Ibu pun pergi ke puskesmas dan memeriksakan kesehatan. Dokter merujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih detail lagi. Karena bisa saja paru-paru ibu mengalami infeksi atau penyakit paru-paru lainnya. Saat itu aku sempat khawatir ketika hasilnya ibu positif TB. Ini karena aku memiliki anak yang masih balita dan sebagian besar waktunya adalah bersama ibuku. Jadi kekhawatiran akan tertular tentu saja ada. Tapi untungnya TB bukanlah penyakit genetik yang bisa menurun, jadi aku tidak perlu khawatir akan hal ini. 


Sejak saat itu ibu harus rutin berobat ke puskesmas dan minum obat secara teratur. Dokter bilang ibu harus rutin meminum obat tersebut selama lebih dari 9 bulan dan harus tuntas. Ini karena bakteri TB sebenarnya masih aktif di dalam tubuh dan membentuk resistensi terhadap obat, sehingga dalam pengobatan pasien TB perlu adanya kombinasi berbagai jenis obat.


Selain itu ibu juga harus makan makanan yang bergizi untuk membantu mempercepat pemulihan. Dalam hal ini keluarga juga haru ikut mengawasi keteraturan si penderita minum obat. Pada kenyataannya kondisi kesehatan ibu pun berangsur-angsur membaik. 


Kini ibu tidak pernah lagi batuk berdahak yang disertai bercak darah dan dinyatakan sembuh total. Badan ibu pun terlihat semakin naik dan bertambah sehat. Namun memang perlu diwaspadai bahwa tidak ada kekebalan seumur hidup dalam tubuh setelah sembuh dari TB. Jadi suatu saat jika tertular oleh kuman TB maka penderita TB yang sudah sembuh bisa terinfeksi kembali. 



Sumber Bacaan : 
www.stoptbindonesia.org 
www.depkes.go.id 
www.pppl.kemkes.go.id 
www.fhi.org 
www. medicastore.com 
www. tuberkulosis.org