Aku adalah seorang pemimpi sejati. Sejak kecil aku selalu punya impian yang tinggi karena bagiku bermimpi itu tidak ada yang melarang. Bermimpi itu gratis jadi aku boleh bermimpi sebanyak-banyaknya. Aku sangat bahagia ketika bermimpi. Sekujur tubuhku seolah dilairi darah segar keajaiban ketika aku menggantungkan mimpi-mimpiku. 

Apalagi ketika suatu saat aku pernah mendengar seseorang berkata: 


GANTUNGKANLAH MIMPIMU SETINGGI LANGIT. 
JIKA PERLU DI LANGIT KETUJUH. 
 KALAUPUN KAMU JATUH MAKA JATUHMU AKAN DILANGIT KEENAM 
ITU MASIH LANGIT. 
KALAU JATUH LAGI MASIH DI LANGIT KELIMA 
DAN ITU PUN MASIH LANGIT 
PERLU WAKTU YANG LAMA BAGI MIMPIMU UNTUK BISA JATUH KE TANAH 
ITU PUN JIKA KAMU KEHILANGAN KESADARAN AKAN MIMPIMU DAN TIDAK BERBUAT APA-APA 

BEDA HALNYA JIKA KAU MENGGANTUNGKAN MIMPIMU SETINGGI POHON 
MAKA DENGAN SEKALI JATUH MIMPIMU AKAN MENCAPAI TANAH 
DAN MIMPIMU AKAN HANCUR BERKEPING-KEPING 
(ANONIM) 

Sayangnya aku tidak ingat siapa yang mengatakan itu. Tapi aku yakin orang yang bisa berkata seperti itu pastilah ia telah mengalaminya, karena ia berkata dengan perasaan sepenuh hati. Dan rasa itu tidak pernah bohong. Kalimat-kalimat itu masih terus terngiang dalam telingaku, mengisi relung jiwaku dan tidak akan pernah hilang dari dalam pikiranku. 

Ada banyak keajaiban hidup yang telah aku temukan dalam kehidupanku. Itu semua karena keyakinanku pada terwujudnya begitu banyak mimpi-mimpiku. Seperti halnya impian masa kecilku yang akhirnya menjadi kenyataan sekarang ini. 

Dulu aku sangat senang membaca. Ada banyak buku-buku cerita anak yang berjajar dalam rak bukuku. Saat itu aku punya impian seandainya suatu hari nanti rak-rak buku itu berisi buku-buku karyaku. Ya… sejak kecil aku memang selalu bermimpi menjadi penulis buku anak. Aku ingin seperti Enid Blyton dengan novel anaknya Lima Sekawan yang fenomenal. 

Aku masih bisa merasakan kegembiraan yang meluap setiap kali aku membayangkan betapa damainya menjadi seorang penulis. Bekerja di rumah yang penuh kedamaian sambil mengurus anak. 

Namun ketika aku menginjak remaja impian itu seolah terhenti. Impian masa remajaku berubah menjadi seorang wanita karir yang bekerja di kantor dengan blazer dan sepatu hak tinggi agar terlihat keren. Bisa ngopi di cafĂ© sambil ngobrol bareng teman-temanku sepulang kerja. 

Karena hasrat yang lebih besar, maka impian masa remajaku lah yang terwujud lebih dulu. Aku berhasil menyelesaikan pendidikan formal yang lumayan tinggi dan mencapai karir yang bagus. Namun impian masa kecil itu tidak pernah hilang. Impian masa kecil itu terus saja memanggilku, walaupun saat itu aku tidak menghiraukannya. 
Impian masa kecilku yang sudah terwujud 
Hingga akhirnya aku merasakan sebuah titik puncak kejenuhan. Aku lelah dengan kemacetan Jakarta juga segala kegiatan sosialita yang memakan biaya serta menyita waktuku yang tidak sedikit. Gajiku yang lumayan besar entah ke mana, seakan menguap begitu saja. 

Aku tidak lagi menikmati kesuksesanku. Aku juga tidak lagi menikmati kehidupanku. Semuanya terasa semu dan membosankan serta cenderung membuatku tertekan. 

Entah dari mana datangnya, impian masa kecilku kembali hadir. Aku kembali merasakan kebahagiaan. Jiwaku yang telah hilang seolah kembali. Dengan segala keberanian, aku pun memutuskan bekerja di rumah menjadi penulis full time. 

Segala kenikmatan hidup kembali aku rasakan. Aku bisa menikmati secangkir kopi di teras rumah pada pagi hari ketika orang lain harus berperang dengan kejenuhan dalam kemacetan ibukota. Aku bisa memasak buat anak-anakku dan bercengkerama dengan mereka setiap waktu. 
Rumah Impianku 
Impian masa kecilku menjadi penulis kini telah menjadi nyata. Kini aku pun kembali bermimpi. Aku ingin suatu saat nanti memiliki sebuah rumah mewah alias mepet sawah. Yaitu sebuah rumah di tepi sawah. Di mana aku bisa mengajak anak-anakku lebih dekat dengan alam. Di sana aku bisa menuangkan ide-ide liarku ditemani oleh alam yang liar. Aku yakin impianku kali ini juga akan segera terwujud. 

“………. maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. …….. “ (QS Al ‘Ankabut : 17) 

Kalau bisa bermimpi setinggi langit untuk apa kita bermimpi hanya setinggi pohon. Soal jalannya terwujudnya mimpi itu adalah urusan Tuhan. Urusan kita hanyalah bermimpi dan meminta pada Tuhan. Jika kita yakin pada Tuhan dan selalu bersyukur atas sekecil apapun yang kita terima maka Tuhan pun pasti akan mengabulkan mimpi-mimpi kita. Jadi jangan pernah takut bermimpi, karena impian itu gratis. 

Artikel ini diikutkan dalam Blog Kontes Mimpi Properti.
Aku sudah menulis impianku. Sekarang gilirankamu menulis impianmu di blog kontes mimpi properti