Aku menghabiskan masa kecilku di Solo. Sebuah kota kecil tapi cukup rame. Di mana tradisi yang bernama "unggah-ungguh" itu amat sangat dijunjung tinggi. Baik itu dilingkungan keluarga ataupun di lingkungan pergaulan apalagi di sekolah. 

Setiap pagi sudah menjadi kebiasaan selalu menegur ibu atau bapak guru yang baru datang. Segal hal yang berbau sopan santun selalu dilakukan secara otomatis tanpa paksaan. Ini membuat anak-anak seusiaku waktu itu amat sangat santun pada orang tua. Sayangnya kebiasaan itu tidak lagi ada di lingkunganku sekarang di Jakarta. 

Tapi toh pada kenyataan aku masih menerapkan "unggah-ungguh" ini pada anak-anakku. Karena bagiku guru karakter terbaik adalah orang tua itu sendiri. Ini karena pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Tapi tanggung jawab terbesar pendidikan karakter anak adalah justru terletak pada orang tua. Ini karena karakter itu berhubungan dengan hati sehingga harus disampaikan dari hati ke hati. Dan hati terbaik yang bisa menyampaikan pendidikan karakter ini adalah ibu atau ayah yang memiliki hubungan batin kuat pada anak-anaknya. 

Masih teringat sekolah waktu SD, di mana aku sangat bersemangat berangkat ke sekolah. Itu semua karena tidak ada yang memaksaku melakukannya. Aku secara sukarela pergi ke sekolah dan sangat bersemangat karena di sekolah aku bisa bertemu teman-temanku. Tapi sebenernya yang bikin aku semangat ke sekolah adalah aku bisa jajan di kantin pada saat istirahat. Aku suka minum limun temulawak dan makan ketan bubuk juruh dengan bebas tanpa diketahui oleh eyangku. 

Tapi aku gak suka mengerjakan PR karena itu adalah sebuah paksaan. Aku juga tidak suka belajar dipaksa sebenarnya tapi karena adanya "unggah-ungguh" itulah maka aku akhirnya belajar untuk menghormati guruku. Aku sendiri bahkan tidak tahu aku bisa apa setelah mempelajari semua pelajaran tersebut. Aku juga tidak tahu untuk apa sebenernya aku mempelajari banyak hal. Yang aku tahu saat tu adalah aku harus sekolah karena anak yang tidak sekolah akan memalukan keluarga. 

Bahkan ketika duduk di SMA aku masih belum tahu untuk apa aku belajar di bangku sekolah. Aku juga tidak tahu aku harus menjadi apa nantinya. Yang jelas saat itu aku tidak memikirkan untuk menjadi penulis, padahal aku senang menulis. Karena Penulis bukanlah sebuah pekerjaan yang masuk ke dalam daftar cita-cita waktu itu. Hingga akhirnya aku harus dengan terpaksa mengambil keputusan akan kuliah kemana. KArena bapakku bekerja di departemen pertanian, satu-satunya yang terpikirkan olehku adalah kuliah di fakultas pertanian. 

Saat kuliah adalah saat-saat yang paling menyenagkan dalam hidupku. BUkan karena aku suka pada mata kuliah pertanian, tapi karena aku merasa aku bisa tahu untuk pertama kalinya untuk apa aku mempelajari sesuatu. Aku juga suka kampusku karena sebagian besar waktuku adalah di luar ruangan. Ada banyak tugas yang berkaitan dengan menanam tentunya. Dan itu sangat menyenangkan. 

Kini setelah menjadi orang tua dengan dua anak aku mengerti benar bahwa belajar yang efektif itu adalah tanpa paksaan. Itu sebabnya aku tidak pernah menyuruh anak-anakku belajar. MAlahan anakku heran ketika aku datang ke sekolah mereka dan bicara langsung pada gurunya agar tidak memberikan PR. Waktu belajar anak adalah di sekolah. Ketika sampai di rumah ia bebas melakukan apapun. Aku tidak ingin pikiran anakku dihabiskan pada masa kecilnya. Aku ingin anak-anakku sekolah setinggi-tingginya, sehingga penting untuk menjaga agar pikiran mereka tidak lelah. Toh pada kenyataannya ketika teman-teman sekelas anakku sudah lelah karena les ini itu, anaku justru sedang semangat-semangatnya belajar dengan segenap hatinya. 

Aku sendiri sebagai praktisi pendidikan sebenernya terlibat langsung dalam penyusunan kurikulum. Sehingga aku tidak akan serta merta menyalahkan kurikulum. Karena bagiku penyampaian kurikulum hingga sampai kepada siswa itu ibarat pesan berantai. Di mana di tengah jalan pasti ada saja yang ditambah atau dikurangi. BElum lagi masalah kompetensi guru yang tidak sama. Tapi toh saat ini aku tidak bisa memilih sekolah bagi anak-anakku sesuai dengan sekolah impianku. Aku hanya bisa meluruskan pendidikan anak-anakku ketika aku rasa mereka keluar dari jalur pendidikan yang sebenarnya. 

Buatku yang namanya sekolah impian itu adalah sekolah dimana siswanya bisa belajar dengan bahagia. Di sekolah ini anak-anak harus tahu untuk apa nantinya pelajaran yang mereka pelajari. Anak-anak juga harus memiliki kompetensi tertentu setelah mempelajari sesatu. JAdi mereka tidak membuang-buang waktu mempelajari hal-hal yang tidak mereka perlukan apalagi yang tidak mereka inginkan. 

Yang namanya sekolah impan bukanlah sekolah dengan bangunan megah bak penjara. Tapi sekolah di tepi sawah dengan saung sebagai peneduhnya akan menjadi sekolah impian jika itu menyediakan kebebasan belajar dan berekspresi bagi siswanya. Sekolah impian juga mengerti benar bahwa siswa adalah manusia, bukan robot yang tidak kenal lelah.  

Sekolah impian itu harus bisa mendorong siswanya untuk memiliki impian besar sedini mungkin. Sehingga siswa bisa bersemangat belajar demi meraih impian-impiannya. Yang paling penting lagi adalah di sekolah impianku, anak-anak bisa terbiasa dengan pendidikan karakter yang juga diberikan oleh semua guru-gurunya, sesuai dengan bidang yang diajarkan. Di mana guru-guru disekolah impian harus mengajar dengan sepenuh hati. Sehingga mereka memiliki rasa tanggung jawab lahir dan batin sebagai pendidik, bukan hanya mendidik karena gaji guru yang besar semata. 

Tulisan ini diikutkan dalam Give Away Sekolah Impian