Entah di mana nurani perusahaan yang satu ini. Bisa-bisanya memanfaatkan kemiskinan warga Johar Baru untuk pencitraan semata. Sangat tidak manusiawi memperlakukan warga miskin Johar Baru. Padahal ini bukan pembagian gratis, mereka bahkan rela membayar Rp 25.000. Tapi perlakuan pada warga miskin inilah yang sangat tidak pantas dilakukan, bagaimanapun juga mereka adalah manusia yang tidak boleh dimanfaatkan untuk pencitraan pihak manapun juga. 

Johar Baru, sebuah kelurahan di Kecamatan Johar Baru Jakarta Pusat yang memiliki 11 RW di mana 10 RW nya memiliki warga miskin dengan jumlah yang cukup banyak. Ditambah dengan kondisi ekonomi seperti saat ini membuat masyarakat setempat sangat antusias ketika ada berita dari Kelurahan bahwa akan ada pasar murah. Pengumuman yang dibacakan pada kesempatan arisan PKK di kantor kelurahan Johar Baru pada tanggal 7 Desember 2014 pun segera menyebar. (*pihak Kelurahan Johar Baru sengaja menyembunyikan surat pengumuman ini ketika diminta menunjukkannya dengan saling melempar siapa si pemegang surat, padahal di halaman kantor Kelurahan warga sudah rame soal pengumuman ini (pada 17-12-2014)) 


Hingga pada hari pasar murah itu tiba yaitu Rabu, 17 Desember 2014, warga pun mendatangi kantor kelurahan Johar Baru dengan membawa foto kopi KTP seperti yang diumumkan. Bahkan ada yang rela mengantri sejak pukul 6 pagi. Namun ketika mobil box dari pihak penyelenggara pasar murah itu datang di halaman kantor kelurahan Johar Baru sekitar pukul 7.30, warga yang sudah mengantri tersebut justru kecewa. 

Pasalnya pihak penyelenggara pasar murah tersebut meminta kupon yang katanya sudah diberikan kepada pihak kelurahan. Pada kenyataannya kupon yang diterima pihka kelurahan dan disebar ke RW hanyalah 500 lembar sehingga setiap RT hanya kebagian 2 kupon. Itu pun pada akhirnya lebih banyak yang dinikmati oleh para pengurus RT dan RW masing-masing dan tidak dibagikan kepada warga yang lebih membutuhkan. 

Jumlah ini jauh dari cukup untuk warga Johar Baru yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Jika memang hanya sejumlah itu, sebaiknya tidak diberikan untuk warga Kelurahan Johar Baru, melainkan untuk warga satu RW saja. Silahkan dipilih RW yang paling membutuhkan. Sehingga tidak mengecewakan sekian banyak warga miskin yang sudah mengantri sejak pagi. 

Paket Sembako tersebut dijual dengan harga Rp 25.000 terdiri dari : 
• 1 liter minyak goreng 
• 2 liter beras 
• 3 buah mie instan 
• 1 kaleng susu kental manis 

Warga yang datang dengan membawa kupon diwajibkan juga membawa fotokopi KTP. Ada tiga meja yang tersedia di sana. Di meja pertama penyelenggara pasar murah akan mencatat data sesuai KTP. Kemudian warga akan diminta ke meja kedua, disini KTP, Kupon serta warga tersebut akan difoto. Barulah di meja ketiga warga akan membayar dan menerima paket tersebut. (Prosedur yang terlalu panjang untuk pembelian sembako murah) 

Memang tidak terjadi antrian panjang di sana. Bahkan pada pukul 9 pagi pun paket yang disediakan hanya tinggal sedikit. Penyelenggara pasar murah ini juga menjelaskan kepada warga yang datang tanpa kupon bahwa mereka bisa membeli nanti jika paket yang ada tersisa karena si pemilik kupon tidak menebusnya. Sebuah pernyataan yang sangat merendahkan warga miskin tentunya. 

Sebegitu rendahkah warga miskin Johar Baru sehingga untuk membeli paket Sembako Murah pun masih diperlakukan seenaknya seperti ini. Apalagi di saat acara ini berlangsung, pihak penyelenggara juga menyebarkan brosur sebuah pusat penjualan barang elektronik yang notabene itu adalah salah satu langkah promosi berkedok pasar murah. Menjelang pukul 10 pagi antrian sudah sepi dan paket yang disediakan pun sudah hampir habis. Namun didalam mobil box masih ada sembako yang belum dibungkus menjadi paket. Entahlah sembako tersebut untuk di bawa kemana lagi. 

Apapun alasannya sudah saatnya sesama warga negara Indonesia peduli pada nasib warga lain. Tapi tidak sepantasnya jika kepedulian itu dimanfaatkan untuk pencitraan tanpa menghargai orang lain. Bagaimana pun juga warga miskin juga manusia dan perlu dipikirkan juga bagaimana cara membantu mereka dengan cara-cara yang lebih manusiawi, bukan pencitraan para penguasa dan pengusaha.