Nila setitik memang bisa merusak susu sebelanga, tapi orang bijak akan selalu mengingat susu sebelanga, bukan nila setitik, atau susu sebelanga yang tercampur nila setitik. Ini karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia. 

Jika orang lebih melihat nila setitik, itu artinya orang tersebut lebih suka melihat keburukan dibanding melihat kebaikan yang ada pada orang lain. Itu artinya orang tersebut bukanlah tipe orang yang suka berterima kasih (bersyukur). Alih-alih bersyukur pada Tuhannya, bahkan brsyukur atau berterima kasih pada sesama manusia pun ia enggan. 

Beda halnya dnegan orang yang selalu melihat pada susu. Atau sesuatu yang bersih. Ini menandakan kebersihan hatinya dan keikhlasan jiwanya. Orang seperti inilah yang menjadikan syukur sebagai bagian dari kehidupannya. Bukan hanya berterima kasih pada Tuhannya tapi juga sesama manusia. Bukankah hutang budi akan dibawa sampai mati?