Yang namanya rejeki itu akan datang di mana saja kita berada. Kalau memang rejeki itu adalah milik kita, maka biarpun berada di rumah, maka rejeki itu akan diantar. Jadi sudah bukan jamannya lagi yang namanya bekerja itu harus ngantor atau keluar dari rumah. 

Dulu aku seorang ibu dengan satu anak yang bekerja kantoran. Pergi pagi, pulang malam dan meninggalkan anakku di rumah bersama pengasuhnya. Kehadiran ibuku yang ikut mengawasi anakku memang sedikit membuatku tenang. Tapi lama kelamaan kedekatan anakku dengan ibuku membuatku cemburu. 

Ditambah lagi kondisi macet Jakarta membuatku stress tingkat dewa. Dalam sehari ada lebih dari 4 jam waktuku terbuang percuma di jalanan Jakarta dalam rangka pulang dan pergi ke kantor. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran ketika hamil anak kedua. 

Sebuah keputusan yang gila pada saat itu. Ini karena aku sendiri tidak tahu akan bekerja apa di rumah. Padahal saat itu karirku sangat bagus. 

Di saat yang bersamaan keadaan tiba-tiba memaksaku menjadi single parent yang harus menghidupi sendiri kedua anakku. Tapi aku tetap pada keputusanku "BEKERJA DI RUMAH". Dengan "THE POWER OF KEPEPET"  akhirnya aku memutuskan untuk menjadi penulis. 

Pemilihan profesi ini berdasarkan hobiku dan impianku. Sejak kecil aku memang memimpikan menjadi seorang penulis. Aku juga suka menulis. Jadi menurutku mewujudkan impian itu adalah sebuah pilihan yang menyenangkan. 

Tidak mudah memang merintis profesi baru dengan segala keterbatasan. Apalagi saat itu belum banyak orang-orang yang bekerja dari rumah. Internet juga masih sangat terbatas, jadi masih mengandalkan warung internet dan pos untuk mengirim naskah. Anggapan orang bahwa berada di rumah adalah pengangguran juga sering membuat naik darah. 

Tapi toh dengan niat kuat memberikan kehidupan yang layak bagi kedua anak-anakku, akhirnya ada saja jalan bagi pekerjaanku. Berawal dengan tulisan curhatku yang dimuat oleh salah satu majalah wanita, maka lahirlah tulisan-tulisan lain dalam bentuk buku maupun artikel di media cetak maupun online.

Setidaknya dengan bekerja di rumah, aku punya 4 jam lebih waktu ekstra yang bisa aku gunakan untuk berbagai kegiatan. Untuk menghemat keuangan, tentu saja aku tidak lagi memakai asisten rumah tangga. Waktu ekstra 4 jam tersebut aku gunakan untuk mengerjakan segala pekerjaan rumah. 

Bahkan masih tersisa kok waktu untuk menikmati kopi pagi dan kopi sore sambil ngobrol dengan anak-anakku. Aku juga tidak lagi merasa kelelahan di akhir pekan karena perjuangan di jalan pada saat hari kerja. Jadi di akhir pekan aku masih bisa menikmati hobiku yang lain yaitu membuat craft. 

Dengan berjalannya waktu, aku tidak hanya menjadi penulis. Bahkan aku banyak mendapat panggilan mengajar craft. Tidak jarang pula orang-orang datang ke rumah untuk belajar craft secara privat. Jadi bekerja di rumahpun masih bisa kok mendapatkan uang berlimpah. 

BAhkan bukan saja uang untuk kehidupan keluargaku yang aku dapat. Aku juga bisa membiayai pendidikanku untuk meningkatkan karirku hingga menjadi konsultan. Satu lagi pekerjaan yang bisa aku lakukan di rumah. 

Bahkan dengan menjadi konsultan dan pengajar craft ini aku mendapat kesempatan jalan-jalan keliling Indonesia dengan gratis. Jadi bekerja di rumah pun ada kok kesempatan meningkatkan karir dan keluar rumah sesekali untuk melakukan rutinitas yang sedikit berbeda sekaligus refreshing. 


Hanya saja memang aku belum begitu pintar mengatur keuangan yang aku dapat dengan bekerja di rumah. Selain itu aku juga merasa masih harus meningkatkan kemampuan management bekerja di rumah. Membaca kisah inspiratif dari perempuan lain yang bekerja di rumah bisa jadi menambah semangat bekerja di rumah. Untuk itulah aku ingin sekali membaca buku Sukses Bekerja dari rumah yang diterbitkan oleh Stiletto dan ditulis oleh perempuan hebat  bernama mbak Brilyantini

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis "Asyiknya Bekerja Dari Rumah"