Beberapa saat yang lalu ketika aku berlibur ke Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu, ada seorang penduduk pulau yang hampir seminggu sekali pulang pergi ke Pulau Pramuka – Jakarta. Beliau berkata bahwa setiap kali naik kapal menuju Jakarta terlihat permukaan Jakarta yang semakin lama semakin rendah. Penjelasan penduduk Pulau Pramuka ini diperkuat dengan fakta bahwa pada 16 September 2010 jembatan di jalan R.E Martadinata Jakarta Utara ambles akibat penurunan permukaan tanah. Kita mengetahui bahwa Jakarta Utara adalah wilayah Jakarta yang paling dekat dengan laut.

Sebenarnya penurunan permukaan tanah ini pertama kali diketahui oleh ilmuan pada saat munculnya keretakan di jembatan Sarinah di Jalan MH Thamrin yang terjadi pada tahun 1978. Berdasarkan observasi periode 1982 – 1991, penurunan tanah tertinggi yaitu sedalam 8,5 cm/ tahun terjadi di Cengkareng Jakarta Barat. Sedangkan pada periode 1997 – 1999 penurunan tanah tertinggi dengan kedalaman 31,9 cm/ tahun terjadi di Daan Mogot.Bahkan penurunan permukaan tanah sudah diketahui oleh Gubernur Jakarta ketika itu (1978) Ali Sadikin

Penurunan tanah di Jakarta masih terus berlangsung dengan perkiraan rata-rata penurunan tanah pada periode Desember 1997 – September 2005 sedalam 1-10 cm /tahun dan 15-20 cm /tahun. Penurunan tanah ini terjadi karena tidak adanya air penopang di dalam tanah. Jika terus terjadi penurunan tanah yang demikian maka kota Jakarta diprediksikan akan tenggelam dalam jangka waktu 40 tahun mendatang atau sekitar tahun 2050 an.

Mengapa Harus Menggunakan Air Bersih Perpipaan

Penurunan air tanah yang terus menerus ini disebabkan karena tidak adanya lagi air sebagai penopang. Yang dimaksud dengan air tanah adalah air yang berada di permukaan tanah. Pembentukan air tanah ini diperlukan waktu ratusan hingga ribuan tahun. Air tanah ini dibagi menjadi dua yaitu :
  1. Air tanah dangkal yang berada pada kedalaman hingga 40 meter di bawah permukaan tanah. 
  2. Air tanah dalam yang berada di kedalaman lebih dari 40 meter di bawah permukaan tanah. 
Jika kita berpikir bahwa jumlah air yang bisa kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari itu ada banyak, maka bisa jadi anggapan itu salah. Coba kita lihat berapa sebenarnya jumlah air di bumi yang bisa kita manfaatkan.
  • Dari total air yang ada di bumi 97,6 % merupakan air asin yang tidak layak konsumsi. 
  • Jadi hanya sekitar 2,4 % saja yang merupakan air tawar. 
  • 87 % dari jumlah air tawar itu berbentuk gunung salju sehingga tidak bisa dikonsumsi. 
  • Dari keseluruhan jumlah air tawar, hanya 13 % saja yang berbentuk cair. 
  • 95% dari total jumlah air tawar yang berbentuk cair tersebut merupakan air penopang pori-pori tanah. 
  • 3 % lainnya merupakan air yang mengisi sungai, waduk dan danau.
  • Jadi air baku yang bisa digunakan manusia hanya sekitar 0,0094% dari total keseluruhan jumlah air yanga da di bumi. 
Jika digunakan terus menerus maka air tanah ini akan habis. Sehingga tidak ada lagi air penopang. Hal ini bisa menyebabkan tanah ambles serta masuknya air laut ke dalam pori-pori tanah dan menyebabkan kualitas air tanah menjadi buruk karena tercemar . Seperti dikatakan oleh Kepala Badan Geologi R. Sukhyar bahwa akibat eksploitasi tanah yang berlebihan hingga mencapai 40% dari yang seharusnya maksimum 20% maka kondisi Cekungan Air Tanah Jakarta saat ini sudah memasuki zona kritis hingga ruasak.

Saat ini kualitas air tanah di Jakarta sudah sangat buruk karena tercemar limbah tinja dan mengandung bakteri Ecoli yang berbahaya bagi tubuh manusia. Kualitas air tanah yang buruk menyebabkan air yang tidak sehat dan harga air yang semakin mahal . Oleh karena itu sudah saatnya kita menyelamatkan air tanah Jakarta dan menggunakan air yang diolah dan didistribusikan ke rumah-rumah melalui pipa atau yang dikenal dengan air perpipaan.

Menggunakan air bersih perpipaan seperti Aetra merupakan salah satu upaya menyelamatkan air tanah Jakarta. Ini karena Aetra menggunakan air permukaan Waduk Jatiluhur sebagai air bakunya. Air bersih perpipaan bisa memperbaiki kualitas air bersih bagi masyarakat. Selain itu menggunakan air bersih  perpipaan bisa menggantikan jumlah air tanah dalam yang sudah berkurang karena selama ini dieksploitasi . 


Mengenal Aetra 

PT Aetra ini adalah nama baru dari PT Thames PAM Jaya yang mengelola, mengoperasikan serta memelihara sistem penyediaan air bersih dan melakukan investasi di wilayah Timur Jakarta yang meliputi sebagian wilayah Jakarta Utara, Jakarta Pusat dan seluruh Jakarta Timur. Tugas Aetra ini berdasarkan kontrak kerjasama antara Aetra dan PAM JAYA selama 25 tahun yaitu sejak 1 Februari 1998 hingga 31 Januari 2023.

Untuk memberikan pelayana terbaik, saat ini Aetra memiliki 2 unit instalasi pengolahan air dengan kapasitas 9.000 Liter/Detik, 1 pusat distribusi (CDC) serta 4 unit instalasi booster pump. Ditambah lagi dengan 5.893 km jaringan pipa distribusi yang didukung oleh 400 ribu pembacaan meter dan penerbitan rekening pelanggan setiap bulan serta lebih dari 2 ribu pekerja. Terhitung sejak Desember 2008 sudah 2,9 juta jiwa di Jakarta yang telah menikmati layanan menggunakan air bersih perpipaan.

Berikut ini adalah video panduan bagi pelanggan Aetra :

Menyelamatkan Air Tanah Jakarta dengan 5 R 


Cara yang efektif untuk menyelamatkan air tanah Jakarta adalah dengan menerapkan prinsip 5 R yaitu Reduce (hemat), Reuse (memanfaatkan kembali), Recycle (daur ulang), Recharge mengisi kembali) serta Recoveryt (menyehatkan kembali) . Berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa diambil dalam penerapan 5 R pada kehidupan sehai-hari masyarakat Jakarta.

  1. Mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaaan air tanah Jakarta dan mengganti dengan menggunakan air bersih perpipaan Aetra
  2. Melindungi daerah resapan untuk mencegah terjadinya penurunan pembentukan air tanah Jakarta
  3. Mengelola kualitas air dengan cara mngendalikan pencemaran air secara terpadu dengan tidak membuang limbah dan sampah sembarangan. 
  4. Menghemat penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari . 
  5. Memanfaatkan kembali air yang digunakan seperti misalnya menggunakan air bekas membilas cucian pakaian untuk menyiram tanaman. 
  6. Daur ulang air misalnya dengan cara penyulingan air kotor hingga bisa menjadi air besih yang layak konsumsi. 
  7. Membuat sumur resapan ataupun lubang biopori untuk mengisi kembali air tanah Jakarta 
  8. Sosialisasi tentang pentingnya mengelola air tanah Jakarta perlu diperbanyak. 
  9.  Melaporkkan secepat mungkin jika melihat kebocoran pipa Aetra
Saya sendiri sebagai pelanggan Aetra yang tinggal di Jakarta Pusat sangat puas dengan layanan PT Aetra. Dengan harga air yang tidak begitu mahal sudah bisa mendapatkan air dengan mudah di rumah. Saya juga menggunakan air dengan hemat. Jadi dalam sebulan untuk jumlah anggota keluarga sekitar 4 orang hanya perlu membayar tidak lebih dari Rp 100.000.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang air tanah Jakarta bisa dilihat pada video berikut ini :
 

Referensi :
  •  http://www.esdm.go.id/ 
  • http://www.aetra.co.id/