Kami menyebutnya “masjid”. Tapi kalau dilihat dari bangunannya lebih tepat jika disebut sebagai “mushola”. Entahlah apa nama yang tepat untuk masjid kami ini. Yang jelas di sinilah kami dulu selalu melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan bersama.

Masjid ini sejak berdiri diberi nama “Al Ikhlas”. Nama ini diberikan untuk mengingat bahwa orang yang membangun masjid ini sudah dengan ikhlas memberikan separoh tanahnya yang tidak begitu luas itu sekaligus membangunnya.

Memang tidak semua biaya untuk pembangunan masjid ini ditanggung oleh tetanggaku yang dermawan itu. Bukan karena dia tidak punya uang lagi, tapi karena dia ingin memberi kesempatan bagi warga lain yang juga ingin memberikan sebagian hartanya untuk membangun masjid ini. Selain itu juga untuk menciptakan rasa memiliki bersama atas masjid ini.

Karena dibangun dengan keikhlasan dan kebersamaan, maka kebersamaan pulalah yang selalu mengisi hari-hari di masjid ini. Setiap hari kami selalu menyempatkan sholat berjamaah di masjid ini, walaupun hanya satu waktu. Ini adalah sebagai rasa syukur kami, karena sebelum masjid ini berdiri, maka kami harus berjalan sejauh 1 kilometer untuk sholat berjama’ah. Baik itu sholat Taraweh ataupun sholat Jum’at.

Masjid kami memang tidak terlalu besar. Tapi kebersamaan kami di masjid ini telah membuat rasa syukur kami semakin besar.

"Tulisan ini diikutsertakan dalam LOmba Menulis : 1001 Kisah Masjid" 

Word count 194