Apa hubungannya antara perempuan pintar, kesejahteraan buruh dan Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) ? 

Jelas ada hubungannya. Kesejahteraan buruh adalah kesejahteraan bangsa. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang memikirkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk buruh. Tapi dengan adanya MEA yang resmi diberlakukan pada tahun 2016 ini, dimana ada banyak tenaga asing yang bisa dengan mudah masuk ke Indonesia, lalu bagaimana dengan nasib buruh kita ?

Sebelum ngomong jauh tentang dampak MEA terhadap buruh, yuk kita cari tahu dulu tentang  MEA.

Jauh sebelum MEA ini dikenal, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN tahun 1997 di Kuala Lumpur diperoleh kesepakatan pembentukan kawasan MEA. Saat itu para pemimpin  ASEAN memutuskan untuk melakukan pengubahan ASEAn menjadi sebuah kawasan ekonomi yang makmur, stabil, bersaing dalam perkembangan ekonomi yang adil. Hal ini untuk mengurangi kesenjangan dan kemiskinan juga bersaing dengan Tiongkok dan India dalam menarik investasi asing.

MEA ini membuka arus perdagangan barang dan jasa juga pasar tenaga kerja profesional. Saat ini baru ada 8 profesi yang bisa bersaing di pasar tenaga kerja profesional yaitu :

  1. Insinyur
  2. Arsitek
  3. Tenaga Pariwisata
  4. Akuntan
  5. Dokter gigi 
  6. Tenaga Survei 
  7. Praktisi medis (Dokter Umum, Spesialis dan sub spesialis) 
  8. Perawat 
Tapi 8 profesi itu nantinya bisa saja bertambah lho. Bahkan sampai pada profesi buruh. Itu artinya kualitas tenaga kerja di INdonesia harus ditingkatkan. Karena setiap perusahaan pasti akan menginginkan tenaga kerja dengan produktifitas tinggi. 


Lalu apa hubungannya dengan perempuan pintar? 

Tidak dapat dipungkiri kalau saat ini para wanita di daerah industri seperti Bekasi banyak yang bekerja sebagai buruh. Mereka mengandalkan upah minimum regional (UMR) sebagai sumber biaya kehidupan. Hanya saja saat ini usia produktif setiap buruh dan sistem kontrak tidak berpihak bagi para buruh wanita. 

Ketika para wanita ini sudah berusia lebih dari 30 tahun, maka kesempatan kerja mereka sebagai buruh akan berkurang. Dengan demikian, sudah saat nya para buruh wanita ini harus membekali diri dengan berbagai ketrampilan yang bisa dijadikan modal dalam kehidupannya nanti. 

Persaingan tenaga kerja dalam MEA bukan saja soal kualitas tenaga kerja yang berimbas pada produktifitas kerja. Tapi dalam persaingan MEA ini juga harus ada strategi yang realistis bagi para buruh terutama buruh wanita. Bagaimanapun juga akan ada saatnya para buruh wanita ini harus mandiri. Oleh karena itu menjadi buruh wanita yang pintar haus dimulai sejak dini.