Orang Indonesia itu sukanya cerita. Kalau sudah merasa cocok dengan seseorang maka dengan mudah cerita akan mengalir.  Bahkan menurut survei psikologi, delapan dari sepuluh orang Indonesia suka bercerita.

Memang ya yang namanya menjalani hidup itu ada banyak cerita. Baik itu cerita suka maupun duka. Nah yang namanya cerita ini memang harus aegera diungkapkan, karena kalau dipendam bisa bisa jadi penyakit hati.


Kebiasaan bercerita ini tidak saja terjadi pada sesama teman, tapi juga dalam keluarga. Sayangnya kebiasaan bercerita dalam keluarga di kota kota besar sudah berkurang. Apalagi bagi keluarga yang memiliki anak yang menginjak remaja. 

Nah untuk merekatkan kembali hubungan keluarga dan mengembalikan kebiasaan bercerita, Sariwangi  kembali mendukung terbentuknya keluarga Indonesia yang harmonis melalui komunikasi yang efektif dan menjadi fasilitator bagi keluarga Indonesia untuk membangun keterbukaan yang lebih mendalam. Komitmen Sariwangi ini diwujudkan dalam kampanye Berani BIcara. 


Dalam kampanye Berani BIcara ini Sariwangi membuat video keluarga Mona Ratuliu tentang bebagai masalah keluarga dan tips-tips menghadapinya. Sariwangi juga mengajak masyarakat Indonesia untuk berbagi cerita yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi keluarga lain. Cerita ini bisa dibagikan melalui media sosial dengan hastag #BeraniBicara. 

Sariwangi sendiri sudah ada di Indonesia sejak tahun 1973 sebagai pelopor teh celup di Indonesia.  Selama lebih dari 40 tahun Sariwangi telah menemani kebersamaan keluarga Indonesia. Hingga pada tahun 2008 Sariwangi menghadirkan kampanye Mari Bicara. Gerakan ini mengajk keluarga Indonesia untuk mengobrol dan membangun kebersamaan yang berkualitas dalam keluarga. Gerakan ini pada tahun 2013 dilanjutkn dengan gerakan 15 menit sehari. Di mana dalam gerakan ini Sariwangi mengajak keluarga Indonesia setidaknya menyisihkan waktu selama 15 menit sehari untuk duduk bersama keluarga dan saling berbagi cerita. 


Nah sekarang pada tahun 2017 ini Sariwangi kembali hadir dalam gerakan BErani BIcara Lebih Dalam. Kampanye ini didahului dengan hasil riset bahwa 2 dari 3 orang di Indonesia cenderung menghindari konflik sebagai alasan kurangnya keterbukaan. Padahal dengan adalah keterbukaan justru akan mendapatkan solusi dari permasalahan yang ada.