Dulu Almarhumah ibuku pernah punya koperasi simpan pinjam namanya Kopersi Mandiri Putri. Anggotanya adalah ibu-ibu yang ada di sekitar rumahku. Sebelum akhirnya menjadi koperasi, ini merupakan sebuah organisasi kecil ibu-ibu di lingkungan RT kemudian meluas ke lingkungan RW sampai akhirnya kelurahan.

Kegiatan awalnya adalah tabungan harian yang digunakan nantinya untuk keperluan hari raya. Sampai akhirnya berkembang menjadi simpan pinjam. Sebagian besar anggotanya adalah para pedagang kecil, seperti tukang gorengan, tukang nasi uduk dan sejenisnya. Sampai akhirnya oleh Dinas Koperasi dan UKM tingkat Kecamatan dibina dan diberikan berbagai bantuan.

Pada tahun 2008 ada bantuan untuk pendirian Koperasi berbadan hukum serta bantuan permodalan sebesar Rp 50 juta. Dana itupun menjadi tambahan modal bagi kopersi yang sudah berdiri dengan anggota lebih dari 50 orang ini. Sayangnya manajemen yang kurang baik, dengan sumber daya manusia yang juga sangat terbatas jumlahnya, maka banyak sekali pinjaman yang akhirnya macet di tengah jalan.

Semakin lama modal koperasi semakin berkurang. Jumlah tabungan anggota dan jumlah pinjaman tidak lagi seimbang. Pengurus yang menjalankan koperasi juga seringkali berganti dengan alasan ibu-ibu yang banyak urusan keluarga dan lain sebagainya. Sampai akhirnya ibu saya yang menjadi ketuanya meninggal dan koperasi itupun tamatlah riwayatnya.

Sangat disayangkan memang. Tapi apa yang mau dikata. Catatan sederhana pembukuan keluar masuk yang ada juga tidak bisa menjelaskan banyak hal. Tidak ada pengurus yang bisa melanjutkan manajemen ala tradisional ini. Nama-nama dalam akte notaris hanyalah tinggal prasasti saja tanpa bisa banyak melakukan apa-apa.


Sekali lagi, sangat disayangkan. Padahal koperasi merupakan sebuah oragnisasi ekonomi yang ada untuk kepentingan bersama. Koperasi sendiri berlandaskan pada kegiatan yang berlandaskan pada prinsip gerakan ekonomi rakyat berdasarkan pada asas kekeluargaan.

Apa yang terjadi pada koperasi ibu saya sebenarnya sudah mengacu pada Undang-undang No. 25 tahun 1992 pasal 4 yaitu koperasi memiliki fungsi dan peranan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota dan masyarakat, berupaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia, memperkokoh perekonomian rakyat, mengembangkan perekonomian nasional juga mengembangkan kreatifitas dan jiwa berorganisasi bagi pelajar bangsa .

Sayangnya memang Koperasi ibuku belum bisa mengembangkan jiwa berorganisasi anggotanya. Untuk poin yang lain terutama yang menyangkut dengan peningkatan ekonomi dan kualitas hidup mungkin sudah , walaupun belum semua anggotanya seperti itu. Toh nyata ada tuukang gorengan yang bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.

Menilik Kilas Balik Koperasi 


Mungkin ada juga koperasi yang seperti punya ibuku. Hanya ikut-ikutan bikin koperasi dan tanpa tahu apa itu koperasi dan bagaimana harus menjalankannya. Jadi ada baiknya kita semua tahu bagaimana sejarah Koperasi. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang sealu mengingat akan sejarahnya. Jadi kalau kita ingin koperasi menjadi maju dan besar, maka kita pun tidak boleh melupakan sejarahnya. Ada banyak hal tentunya yang bisa kita pelajari dari sejarah.

Dulu pada tahun 1896 Ada seorang Pamong Praja di Purwokerto yang bernama Patih R. Aria Wiria Atmaja. Beliau mendirikan sebuah  Bank untuk para priyayi , kalau sekarang mungkin pegawai negeri namanya. Bank ini didirikan untuk menolong para pegawai yang saat itu hidupnya sangat menderita akibat jeratan hutang pada lintah darat. Saat itu memang keadaan ekonomi di Tanah Air memburuk karena sistem kapitalisme yang memuncak.

Sang Patih sebenarnya ingin membuat koperasi kredit seperti yang ada di Jerman. Cita-cita beliau ini kemudian diteruskan oleh asisten residen Belanda yang bernama De Wolffvan Weterrode. Setelah Wolffvan mengunjungi Jerman pada saat cuti, iapun menganjurkan untuk mengubah Bank Pertolongan Tabungan yang sudah ada menjadi Bank Pertolongan Tabungan dan Pertanian. Perubahan ini dimaksudkan agar petani yang sering menderita karena sistem ijon bisa ditolong.

Sayangnya dijaman pemerintahan Belanda pembentukan Koperasi belum bisa dilaksanakan karena

  1. Belum ada instansi baik itu pemerintah maupun non pemerintah yang memberikan penyuluhan tentang koperasi. 
  2. Undang-undang yang mengatur tentang koperasi juga belum ada
  3. Pertimbangan politik di masa penjajahan. Dikhawatirkan koperasi justru akan membahayakan pemerintah. 
Karena pertimbangan itulah maka pada saat itu Bank Pertolongan Tabungan dan Pertanian juga Lumbung Desa serta rumah gadai dan Centrale Kas diubah menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI). Namun seiring berjalannya waktu koperasi terus muncul dan berkembang. 

Tahun 1908 Budi Utomo memperbaiki kehidupan rakyat dengan gerakan Koperasi. Dan pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam yang bertujuan memperjuangkan ekonomi para pengusaha Pribumi. Semangat Koperasi sangat terasa ketika pada tahun 1929 Partai Nasional Indonesia berdiri. 

Hingga akhirnya untuk pertama kalinya diterbitkan peraturan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915 yaitu Peraturan Perkumpulan Koperasi No.43. Kemudian dilanjutkan dengan Peraturan no 91 tahun 1927 tentang Perkumpulan-perkumpulan Koperasi bagi golongan Bumiputera. Diskriminasi terjadi ketika Pemerintah Hindia Belnada kembali mengeluarkan peraturan Umum Perkumpulan-perkumpulan Koperasi No.21 Tahun 1933. Peraturan ini diperuntukkan bagi golongan yang tunduk pada peraturan hukum Barat. 

KEtika masa penjajahan Jepang,  pada tahun 1942, Jepang mendirikan Koperasi Kumiyai. Namun nyatanya koperasi ini justru menjadi alat Jepang untuk mengambil keuntungan dan akhirnya menyengsarakan rakyat Indonesia. Setelah Indonesia merdeka , maka untuk pertama kalinya diadakan konggreskoperasi pada tanggal 12 Juli 1947. Dalam konggres tersebut dibentuk Sentral Koperasi Rakyat (SOKRI) yang berkedudukan di Tasikmalaya. Hingga saat ini tanggal 12 Juli kemudian diperingati sebagai hari koperasi Indonesia. 

Koperasi di Era Modern

Pada dasarnya, koperasi merupakan organisasi yang didirikan oleh beberapa orang sesuai dengan pertaturan yang ditatpkan oleh pemerintah. Tujuan didirikannya koperasi adalah untuk membantu meningkatkan usaha dan taraf hidup masyarakat. Sayangnya hingga saat ini, aktifitas koperasi seperti halnya yang dilakukan oleh ibu saya masih menggunakan aktiftas yang belum modern. 


Hal inilah yang membuat perkembangannya sangat lambat bahkan bisa saja mati suri seperti koperasi ibu saya. Bantuan dari pemerintah boleh dibilang berlimpah. Mulai dari manajemen sampai permodalan. Pelatihan juga berkali-kali dilakukan, seperti yang saya lihat pada koperasi ibu saya. 

Anggota yang dikiirm untuk mengikuti pelatihan juga berkali-kali. Tapi apa daya, para ibu-ibu rumah tangga dengan tingkat pendidikan yang tidak tinggi ini masih kaku memegang tuts laptop. Apalagi berkenalan dengan internet. Jadi bagaimana mereka akan membuat email, atau laporan keuangan dalam bentuk exel? 

Dulu koperasi ibu saya pernah ditawari untuk bekerjasama dengan program sebuah Bank swasta dalam hal simpan pinjam. Tapi rapat anggota mengkhawatirkan kalau mereka justru akan terjerat banyak hutang. Dan akhirnya tawaran untuk kemajuan itu pun ditolak. 

Padahal sebenarnya dengan menerima tawaran ini bisa jadi semacam magang atau belajar sambil praktik dari organisasi komersial yang sudah lebih maju. Namun apa daya pemikiran tradisional kembali menjadi batas langkah yang lebih jauh. 

Di era modern yang serba mengandalkan kemajuan IT ini, maka sudah seharusnya koperasi juga mengikuti kemajuan jaman. Koperasi yang masih menjalankan aktifitasnya secara tradisional dan tidak bisa memanfaatkan teknologi Indformasi dan komunikas , maka bisa jadi akan jauh tertinggal. 

Belajar dari apa yang terjadi pada koperasi ibu saya, maka koperasi yang modern seharusnya : 
  1. Sudah memanfaatkan teknologi internet untuk mendukungaktifitasnya. Dengan demikian usaha yang dilakukan oleh para anggotanya sudah bisa dimonitor dan dievaluasi serta didata secara akurat dan selalu up to date. 
  2. Setiap pengurus koperasi sudah seharusnya mendapat pelatihan dan menguasai kemampuan manajemen dan laporang serta pengelolaan koperasi berbasis IT. 
  3. Untuk dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya, maka sudah seharusnya pengurus koperasi melakukan kegiatan bisnis melalui jaringa e-commerce. 
  4. Perlakuan terhadap anggota seharusnya adil, dimana bagi anggota yang banyak berpartisipasi bagi kemajuan koperasi akan diberikan SHU maupun hak suara yang lebih banyak dibanding dengan anggota yang pasif. Dengan demikian masing-masing anggota akan berusaha untuk aktif dan berbuat banyak bagi kemajuan koperasi. 
  5. Kebijaksanaan personalia perlu dilakukan secara selektif agar dihasilkan sumber daya manusia yang bermutu yang bisa mengelola manajemen koperasi dnegan baik. 
  6. Diterapkan manajemen resiko dari setiap masalah yang terjadi sehingga setiap masalah yang ada tidak hanya menjadi tanggung jawab pengurus. 
Nah agar nantinya koperasi tidak lagi tertinggal dengan usaha lain, maka prinsip usaha bersama harus terus dipupuk dan ditingkatkan. Jika perlu, setiap anggota diberikan peltihan motivasi usaha, tentang bagaimana memiliki keinginan untuk maju yang lebih tinggi lagi. Dan yang lebih penting lagi adalah meninggalkan cara-cara tradisional dalam mengelola koperasi di era modern ini.