Salah satu sudut Lembah Bada dan Pelangi 

Lembah Bada . Sebuah negeri yang hampir setiap hari selalu ada pelangi. Konon dahulu negeri ini dikenal sebagai tempat tinggal To Manuru dan keturunannya. Ia adalah Putra Dewa yang sengaja diturunkan dari langit untuk memelihara bumi.  
Nun jauh di tengah-tengah Pulau Sulawesi tepatnya di dalam Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah, ada sebuah lembah yang sangat indah. Ada banyak patung-patung besar yang usianya sudah ribuan tahun bertebaran di setiap sudut kampung. Di sekeliling lembah terlihat gunung-gunung hijau yang tinggi menjulang.

Ujung Pelangi Di Sungai Lariang Lembah Bada 

Setiap hari ada sajian suara alunan musik khas yang tidak akan pernah ditemui di mana saja. Alunan merdu itu berasal dari setiap sudut halaman rumah, dimana setiap wanita tua yang ada di rumah-rumah itu akan memukulkan batu ike untuk membuat kain kulit kayu. Pertemuan batu ike dan kayu inilah yang kemudian menimbulkan alunan musik merdu.

Inilah Lembah Bada. Sebuah tempat yang merupakan surga sejarah. Di tempat ini kita bisa melihat betapa sebuah kehidupan bisa mempertahankan budaya membuat kain kulit kayu dan juga patung-patung besar yang konon semuanya itu sudah ada sejak jaman Neolitikum.

Menuju Lembah Bada 


Untuk bisa menuju Lembah Bada, perjalanan akan di awali dari kota Palu, Ibukota Sulawesi Tengah. Dulu jalan menuju Lembah Bada sangat buruk. Jalanan tanah dalam hutan yang bisa saja membuat mobil terperosok ke dalamnya. Jembatan yang ada masih berupa kayu sehingga jika ada mobil yang akan menyeberang harus ditarik. Hal inilah yang membuat Lembah Bada jarang dikunjungi.

Tapi sekarang, jalan dari kota Poso menuju Lembah Bada sudah sangat bagus. Semua jalan sudah beraspal. Jika berangkat dari Palu pagi hari maka kita bisa sampai di Lembah Bada sore hari. Tapi kalau kita baru berangkat siang hari maka mau tidak mau kita harus menginap di Tentena terlebih dahulu. Tidak disarankan berangkat ke Lembah Bada pada malam hari.

Jalan Dari Palu Menuju Tentena melewati tebing dan jurang 

Walaupun jalannya sudah bagus, namun perjalanan dari kota Tentena menuju Lembah Bada akan melewati jalan yang naik dan berliku. Ini karena kita akan mendaki gunung. Di kanan kirinya ada jurang yang dalam. Sepanjang perjalanan, jalan yang kita lalui juga sepi, namanya juga ditengah hutan lindung. Jadi perjalanan di malam hari yang gelap dikhawatirkan jika kita mengalami kecelakaan atau jatuh ke jurang maka tidak akan ada yang melihat ataupun menolong.

Kampung Bali di Sigi Montong Sulawesi Tengah

Disarankan untuk membawa perbekalan berupa makanan dan minuman yang cukup sepanjang perjalanan. Karena perjalanan lumayan jauh dan disepanjang jalan jarang ditemui penjual makanan dan minuman. Kiri kanan jalan dari Palu menuju Kota Poso dan Tentena yang akan kita temui adalah hutan, jurang dan tebing. Perjalanan menuju Tentena juga menyusuri pantai dan melewati kampung Bali di Kabupaten Sigi Montong. Perjalanan dari Palu menuju Tentena memerlukan waktu sekitar 6-7 jam.

Tugu Uwentira

Bagi yang beragama muslim, jika ingin sholat Dhuhur atau Ashar, maka bisa berhenti di daerah Kebon Kopi. Di sana ada tugu Uwentira yang diseberangnya ada sebuah Mushola kecil tapi nyaman. Untuk mencapai mushola ini kita akan melewati warung kopi di pinggir jalan dan kita bisa istirahat sejenak di sini. Konon, Uwentira ini lebih dikenal sebagai negerinya para Jin. Ceritanya seringkali ada orang-orang yang lewat sini melihat ada kota ramai, padahal tempat ini kenyataannya adalah hutan.

Menginap di Tentena. 


Pagi hari di tepi danau Poso yang berada dtepat di depan penginapan

Tentena merupakan sebuah kota kecamatan di Poso. Lokasinya di sekitar Danau Poso. Walaupun hanya kota kecamatan, tapi di Tentena ini cukup ramai. Di sini ada banyak penginapan dan tempat makan.

Karena waktu itu kami pergi dari kota Palu sudah siang, maka kami harus menginap di kota Tentena pada malam hari. Kami memilih sebuah penginapan yang berada tepat di tepi danau Poso. Harga penginapan di sini sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu. Tergantung kamar yang kita inginkan. Sayangnya air yang ada di sini diambil dari danau Poso, jadi jangan heran kalau warnanya coklat dan terlihat kotor.

Penginapan Di Tentena 

Keesokan harinya setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju Lembah Bada. Oh ya, kalau kalian mampir di Tentena, jangan lupa mencoba ikan Sugili. Ini adalah sejenis belut besar yang hanya hidup di Danau Poso. Tapi memang tidak semua restoran atau penginapan menyiapkan ikan Sugili ini. Beruntunglah kami bisa mencicipi ikan Sugili goreng tepung dengan harga satu porsi Rp 35.000. Satu porsi ikan Sugili ini banyak lho. Jadi bisa dimakan berdua bahkan bertiga.

Menu sarapan di penginapa, Ikan Sugili goreng dan capcay 

Kalau tiba di Poso pada siang hari, maka pilihan untuk makan siang yang tepat adalah di tepi danau Poso. Di sini ada banyak sekali tempat makan dengan pemandangan danau Poso yang terbentang luas. Kita bisa memesan beberapa kilo ikan kemudian oleh tempat makan akan diolah sesuai permintaan. Bisa dibakar, digoreng ataupun di buat Woku. Harga per kilo ikan sekitar Rp 75 ribu.

Salah satu tempat makan yang berada di tepi Danau Poso 

Biasanya yang banyak disiapkan adalah ikan air tawar seperti ikan Mas dan ikan Mujair. Rumah makan ini terletak di tepi danau Poso, kalau kita masuk kemudian duduk, maka di bawah tempat duduk kita adalah danau Poso. Jadi ikan yang akan disajikan merupakan ikan segar yang langsung diambil dari keramba yang dibuat di Danau Poso tersebut.

Ikan Woku, tumis kangkung, sambal  dan nasi 

Menikmati Perjalanan Tentena - Lembah Bada 


Perjalanan dari Tentena menuju Lembah Bada ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit. Tapi berhubung kami agak-agak norak jadilah waktu tempuh sedikit lama, karena sesekali kami berhenti dan memotret. Jalan yang dilalui cukup bagus.

Dari jalan menuju Lembah Bada yang berada di atas bukit terlihat jelas Danau Poso yang ada di bawahnya 

Walaupun jalan menuju Lembah Bada sudah diaspal, tapi memang di kiri kanan jalan cukup menyeramkan, Ada jurang yang dalam dan kemungkinan tebing batu yang longsor bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Belum lagi jalan yang masih rapuh, jadi kalau ada kendaraan besar seperti truk lewat dan beratnya berlebihan, bisa saja tanah di tepi jalan berguguran.

Jalan menuju Lembah Bada di tengah Hutan Taman Nasional Lore Lindu.

Dan tahukah kalian kalau di jalan berliku itu ada banyak truk yang lalu lalang membawa bahan untuk pembangunan jalan. Jadi perjalanan menuju Lembah Bada memang harus dipenuhi dengan zikir dan doa-doa keselamatan.

Anak sungai Lariang yang berada di bawah jembatan Malei 

Di tengah perjalanan kami melewati anak sungai Lariang, yaitu sungai terpanjang di Sulawesi yang hulunya adalah di daerah Lore Lindu. Anak Sungai ini airnya berwarna merah, jadi dikenal dengan nama sungai merah. Jembatan yang kami lalui bernama Jembatan Malei yang diresmikan pada tahun 2006.

Sisa-sisa kebakaran hutan di Taman Nasional Lore Lindu 

Kami juga melalui hutan di mana masih terlihat bekas-bekas kebakaran hutan dua tahun lalu. Sayang sekali memang kalau melihat betapa luasnya kebakaran hutan tersebut. Tapi pohon yang terbakar tidak ditebang kok. Jadi masih ada kemungkinan pohon-pohon itu bisa hidup kembali.

Bahkan terlihat juga pohon-pohon yang sudah muncul tunas tanda kehidupan baru akan dimulai. Hingga akhirnya kamipun sampai di Lembah Bada. Sebuah perkampungan yang asri dan tertata rapi.

Menginap di Lembah Bada 


Penginapan di Lembah Bada tidak banyak. Kamar untuk menginapnya juga biasa saja. Ada rumah panggung dengan lantai kayu. Dan ada juga kamar dengan bangunan tembok.

Kami memilih kamar dengan bangunan tembok yang berjajar. Di setiap kamar  ada dua dipan kayu kecil. Kamar mandi juga tersedia dengan WC duduk. Tapi tidak ada shower ya di sini.

Penginapan di Lembah Bada 

Harga menginap satu kamar per malam adalah Rp 150.00 sudah termasuk makan pagi, siang dan malam. Menu makanan yang disajikan cukup sederhana. Pemilik penginapan sebelumnya akan bertanya apakah suka ayam atau ikan atau keduanya. Jadi mereka akan menyajikan sesuai dengan lauk yang kita pilih plus nasi dan sayur.

Kalau ingin kopi atau air mineral kita bisa membayar langsung karena ini tidak termasuk dalam hitungan makan. Selain lauk ada juga nasi dan buah serta kerupuk.

Jalan Menuju Sungai Lariang diantara kebun kopi 

Pagi hari kami jalan-jalan ke sungai Lariang yang ada di desa Gintu. Dari penginapan kami melewati kebun kopi hingga akhirnya sampai di tepi sungai. Di sana pemandangan sangat indah dan kami juga berburu matahari terbit.

Berburu Sunrise di Sungai Lariang 

Di tepi Sungai Lariang 

Setelah sarapan, kami berkeliling Lembah Bada yang luas. Tujuan pertama adalah ke desa Lengkeka melihat rumah adat. Di sana juga ada pengrajin kain kulit kayu.

Kain Kulit Kayu 


Kain kult kayu masuk ke Indonesia lebih dari 4000 tahun yang lalu. Dibawa oleh orang-orang Austronesia dan berkembang di Sulawesi terutama Sulawesi Tengah. Uniknya, budaya kain kulit kayu ini masih terus dilakukan di beberapa tempat di Sulawesi Tengah hingga kini. Kebudayaan kain kulit kayu di Sulawesi Tengah ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya fosil hidup di dunia.

Rumah adat di desa Lengkeka 

Kain kulit kayu telah dibuat dan digunakan di Sulawesi Tengah sejak jaman Neolitikum. Hingga kini kain kulit kayu masih terus dibuat dan dipakai di beberapa lembah di Sulawesi Tengah. Diantaranya adalah di Desa Pandere Lembah Napu, kabupaten Sigi. Ada juga di Lembah Behoa dan Lembah Bada di kawasan Taman Nasional Lore Lindu Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Selain itu di Lembah Kulawi dan Toro serta Pipikoro di Sulawesi Tengah.

Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan kain kulit kayu ini adalah batu ike dan kayu dari batang enau sebagai pemukul . Serta balok kayu besar sebagai landasan kulit kayu. Uniknya, batu ike yang digunakan sebagai pemukul ini diduga usianya sudah ribuan tahun. Batu Ike ini diperkirakan merupakan peninggalan dari orang-orang Austronesia. Hal ini dibuktikan dengan penemuan 5 buah batu ike oleh Balai Arkeologi Sulawesi Utara dan Tengah di situs Watunongko Lore Timur Kabupaten Poso Sulawesi Tengah.

Alat-alat membuat kain kulit kayu 

Kain Kulit Kayu di Sulawesi Tengah dikenal dengan nama “Fuya”. Namun dari entimologi, sebenarnya nama Fuya diberikan oleh bangsa Jepang. Entah sejak kapan nama Fuya ini dikenal oleh masyarakat Sulawesi Tengah. Hanya saja penamaan lokal kain kulit kayu di Sulawesi Tengah ini berbeda-beda.

Hingga saat ini, kain kulit kayu digunakan dalam upacara adat. Seperti misalnya upacara Balia. Ini merupakan upacara penyembuhan yang dilakukan oleh dukun sakti. Konon kabarnya dukun ini merupakan orang pilihan dari keturunan To Manuru. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, To Manuru dianggap sebagai Dewa dari Kahyangan yang turun ke Bumi. Itulah sebabnya mengapa hingga saat ini kain kulit kayu masih terus dibuat di Sulawesi Tengah.

Mama Beri , Salah satu pengrajin tertua di desa Gintu. Usianya sudah lebih dari 80 tahun

Pada saat upacara Balia berlangsung, sang dukun akan memakai baju putih yang terbuat dari kain kulit kayu. Untuk mendapatkan kain yang putih, diambil dari pohon Saeh. Yaitu sejenis pohon Mulbery yang banyak tumbuh di kebun dan hutan di beberapa Lembah di Sulawesi Tengah. Selain pohon Saeh, ada pohon Malo yang juga menghasilkan warna kain putih.

Ada juga kain kulit kayu yang berwarna gelap. Umumnya berwarna coklat kemerahan. Ini dbuat dari kulit kayu beringin. Di Lembah Bada, beringin terbaik yang bisa menghasilkan kain kulit kayu dikenal sebagai “Kalekau”. Warna gelap ini juga bisa diperoleh dengan memberi warna pada kain kulit kayu putih.

Dari pohon Saeh inilah, kulit kayu diambil sebagai bahan pembuatan kain. 

Dahulu kala, kain kulit kayu dipakai oleh semua masyarakat Sulawesi Tengah. Namun sekarang kain kulit kayu hanya dipakai dalam upacara adat sebagai pakaian adat atau sebagai perlengkapan adat. Pemakaian kain kulit kayu ini tidak boleh sembarangan. Setiap status dalam masyarakat akan menggunakan baju dari kain kulit kayu yang berbeda-beda.

Ada lima status yang mempengaruhi pemakaian kain kulit kayu yaitu Raja, Hakim, Tadulako (Panglima), Orang berjasa dan terakhir budak. Untuk Raja, Hakim dan Tadulako bisa memilih motif yang akan digambar pada kain kulit kayu. Orang biasa yang berjasa hanya boleh memakai kain yang diwarnai saja tanpa motif. Sedangkan budak hanya boleh memakai pakaian putih yang panjangnya tidak sampai ke bawah mata kaki.

Lembaran kain kulit kayu yang sudah jadi 

Untuk bisa menjadi satu lembar kain kulit kayu, diperlukan beberapa lembar kulit kayu. Setelah pohon ditebang, maka kulit kayu harus dilepas dari batang bagian dalam. Kulit bagian luar yang berwarna gelap dibersihkan dengan menggunakan pisau.

Kulit kayu harus dicuci pada air mengalir agar tidak ada kotoran yang menempel. Jika ada satu butir pasir saja, ini akan membuat kain yang dihasilkan tidak rata dan mudah sobek ketika dipukul. Jika menggunakan kulit dari pohon Malo maka perlu dilakukan perebusan hingga air mendidih. Ini dilakukan agar kulit kayu menjadi lebih lunak. Akan tetapi jika menggunakan kulit dari pohon Saeh tidak perlu dilakukan perebusan.

Pengrajin kain kulit kayu dari Desa Lengkeka 

Langkah selanjutnya adalah membungkus kulit kayu dengan daun pisang. Setelah itu dilakukan penyimpanan selama 6 hari atau lebih. Lamanya penyimpanan ini berbeda-beda di setiap daerah. Penyimpanan ini untuk menghasilkan lendir yang akan mempermudah dalam proses pemukulan kulit kayu menjadi lembaran kain.

Setelah beberapa hari disimpan, kulit kayu ini siap untuk dijadikan bahan membuat kain. Dalam keadaan basah, kulit kayu ini harus segera dipukul. Alat pemukul yang digunakan pertama kali adalah Peboba, yaitu pemukul yang terbuat dari batang pohon enau. Setelah kulit kayu melebar, maka mulai digunakan pemukul dari batu ike.

Untuk menghasilkan satu lembar kain kulit kayu dengan ukuran kurang lebih 90cm X 2m diperlukan waktu selama kurang lebih satu hari penuh. Pembuatan kain kulit kayu harus diselesaikan dalam satu hari karena jika kulit kayu sudah tidak basah dan lendir sudah hilang maka kualitas yang dihasilkan akan sangat buruk. Kulit kayu akan mudah sobek ketika dipukul.

Baju dari kain kulit kayu

Setelah diperoleh ukuran kain yang diinginkan, maka kulit kayu itu harus dijemur. Penjemuran tidak bisa dilakukan dibawah sinar matahari langsung. Ini karena permukaan kain akan bergelombang dan terlihat kurang bagus.

Sebagian besar pengrajin kain kulit kayu adalah para wanita tua. Wanita muda di sana kurang tertarik menjadi pengrajin karena harga kain kulit kayu yang murah dan permintaan yang sedikit. Hal ini tentu saja tidak boleh dibiarkan. Karena ini merupakan salah satu penyebab hilangnya warisan budaya kain kulit kayu satu-satunya di dunia yang masih tersisa.

Patung-patung Megalitikum


Perjalanan selanjutnya adalah melihat patung- patung besar peninggalan nenek moyang sejak jaman Megalitikum. Patung - patung ini masih terpelihara dengan baik. Ini karena masyarakat Lembah Bada sangat menghormati peninggalan leluhur mereka.


Patung Loga 

Ada banyak patung yang tersebar di seluruh lembah. Patung-patung ini ukurannya sangat besar. Diperkirakan umurnya sudah ribuan tahun dan merupakan peninggalan jaman Megalitikum dulu. Menurut ahli arkeologi, patung patung ini dibuat tahun 2.700 SM

Dahulu masyarakat di jaman Megalitikum masih menganut ajaran Dinamisme. Jadi mereka memuja patung sebagai simbol para Dewa. Patung patung ini dibuat sebagai perwujudan orang orang yang hidup di masa itu. Sehingga ada banyak legenda di daerah ini yang menceritakan tentang asal muasal patung patung tersebut.

Patung Ariimpohi 

Itu sebabnya Lembah Bada menjadi Museum luar terbesar di Indonesia. Bahkan di seluruh dunia hanya ada dua tempat yang banyak patung besar peninggalan nenek moyang dari jaman Megalitikum dulu. Yaitu Pulau Paskah di Chili dan Lembah Bada di Indonesia.

Salah satu patung yang terbesar adalah Patung Palindo atau disebut juga patung Sepe. Konon dulunya patung Palindo ini merupakan raja dari semua patung yang ada di Lembah Bada. Ia adalah perwujudan dari To Manuru. Putera dewa langit yang diturunkan ke bumi.

Ada lagi patung Ari-impohi yang diletakkan di tengah jalan desa. Konon dulunya Ari-impohi ini adalah seorang laki laki yang dihukum oleh raja. Itu sebabnya kepalanya diletakkan di tengah desa.

Patung Sepe 

Patung lain adalah Loga. Ini adalah istri Ari-impohi yang hatinya selalu disakiti oleh suaminya. Loga adalah putri Raja sehingga tempatnya di atas bukit. Selain itu masih ada banyak sekali patung di Lembah Bada. Bahkan patung- patung itu ada juga yang terdapat di kebun warga.

Ada banyak cerita dari setiap sudut desa dan juga setiap patung yang ada. Sekali berkunjung ke Lembah Bada pasti ingin kembali lagi ke sana. Karena setiap kali datang belum tuntas cerita yang bisa kita dapatkan. Jadi selalu ada cerita dan misteri yang akan kita dapat dalam setiap kunjungan ke Lembah Bada.

Berikut ini adalah video perjalananku ke Lembah Bada.